3/20/2013

Sajak Merindu


I

Aku rindu.
Tidak pada sang bulan
Yang dulu teman bincang
Tidak pula pada bintang
Yang semu saat hujan.

Aku rindu.
Bukan sedemi kata yang menyeluruh
Tidak pula sedemi raga yang membeku
Aku hanya rindu
Dan tiada tahu.

II

Pantulan cahya ini
Insan-insan yang mengabdi
Para 'nusia yang berganti
Silang tertelan bumi.

Kerinduan ini
'Ku sebut bukti abadi
Kekal terus mengisi
Cinta sedemikian ini.

Rinduku
Pada cintaku
Tiada nihil angin berhembus
Rinduku sekuat maut
Untukmu, cintaku
'Ku berikan seluruh.

Desember 2012.

Debu-Debu Cinta


Gemuruh hati terus menyerbu
Katakan cinta layaknya mampu
Debu ini tiada membusuk
Jika dipendam, ditinggal merenung
Jika dikubur di jurang terbuntu

Maka saat dua insan menyebut cinta
Tiada salah debu ini meronta
Ingin bebas terbang lepas
Ingin dipandang walau tak bersayap

Tiada salah debu ini mendorong
amat kuat
Merusak pintu hati yang jauh di mata
Menerjang rintang yang menghadang
Serbu... Serbu... Debu ini menyerbu
Agar topeng semua kandas
Di dunia lepas
Ia bebas

Debu ini
Yang menyerbu
Cinta dua insan yang menyatu

Desember 2012

Hai, Hampa. Aku Rindu.


Malam kian menjemput panasnya hari. Matahari beserta cahayanya nan terik kini mulai membenamkan diri, sang bulan pun menunggu untuk terbit.

Malam ini sepi, tak seperti biasanya. Yang 'ku dengar hanyalah tangisan sendu dan rintihan perih dari diriku sendiri. Suara kicauan burung kian memudar, ikut pulang bersama matahari; membawa tawa dengan hembusan angin, menggantikannya dengan hampa yang membeku.

Malam ini sepi, tak seperti biasanya. Diri ini duduk sendiri, di balik pepohonan kering dan dedaunan jatuh. Kelak kumbang dan kupu-kupu 'kan hadir, mencoba menemani. Namun ragaku masih sendiri.

Karena dirimu tak hadir.

Bulan kemudian memperlihatkan seluruh tubuhnya. Malam ini penuh; bukan sabit atau setengah. Malam ini awan jauh; tidak menutupi sang bulan, mungkin sedang bermain dengan sesama.

Diri ini masih di bawah pohon, namun tak lagi bersama kumbang maupun kupu-kupu. Suara kicauan burung pun sudah tidak terdengar, yang ada hanyalah suara tiupan angin yang berhembus. Seperti suara bisikan seseorang yang 'ku rindu.

Namun sayang, bukan dirimu.

Kepada desiran hampa aku bertanya, "Hai, bisakah kau meresap nafas yang ia hembuskan di seberang sana?"

Namun sial, mereka cuma hampa. Membalasku hanya dengan suara kosong.

Aku pun bertanya lagi, "Hai, bisakah kau mengenggam tangannya di seberang sana, sekali saja, untukku?"

Namun sial, mereka cuma hampa. Siapa pikir mereka punya tangan?

Mungkin aku memang bodoh.
Sayang, mungkin aku hanya berharap.


Berjam-jam aku duduk disini. Merenung, merasuki raga yang mati.
Berjam-jam aku terjaga disini. Dengan secangkir kopi pahit,
Yang bukannya menghangatkan, malah menambah perih.


Aaaaah.
Aku ingin berteriak. Tapi 'kan sedang sunyi, tak inginku mengisi hampa dengan jeritku sendiri.
Ah! Akupun bertanya lagi. Kepada mereka hampa, walaupun 'ku tahu mereka tak kuasa membuat bising sekecil apapun.

"Hai, hampa. Mungkinkah ia di seberang sana ingin juga menjerit?"

Masih diam.

"Mungkinkah dia di seberang sana masih duduk terdiam, meratap dan merenung?"

Tak ada jawabnya.

"Aku mohon, hampa. Aku rindu padanya. Tak bisakah kau lihat dia, sekali saja, lalu beritahu aku bagaimana kabarnya?"

Hampa masih sunyi. Hampa masih diam. Hampa tak bersuara.

Akupun menyerah. Aku rindu, tapi tak miliki kuasa. Aku ingin bertemu, tapi dipisahkan bentala yang puluhan kilometer jauhnya.

Ah... Aku rindu.
Tapi hampa saja tak bisa membantu.


Aku berdiri dari dudukku, kurasakan darahku mengalir ke jari-jari kaki yang membeku. Lalu 'ku tatap itu bulan penuh, kemudian bertanya, "Hai, Bulan. Kau 'kan terlihat di seluruh penjuru dunia. Jawablah diri ini. Disana, di seberang sana, mungkinkah dia juga rindu - padaku yang lama menunggu?"

Aku mengharapkan jawaban. Yang tak sangsi, yang pasti. Tapi bulan juga bisu, ternyata. Dia hanya bisa memancarkan sinar dan menarik bintang. Dia tidak bisa menjawab kegundahan hatiku ini.

Ah, aku menyerah.

Aku pun mulai melangkah pergi. Melambaikan tangan pada siapa entah, mungkin pada hampa. Usai sudah ratapan ini. Lelah aku, tak ada yang bisa menjawab.


Satu langkah...

Dua langkah...

Tiga langkah...


"Tunggu!"


Saat itulah langkahku terhenti. Seseorang berteriak! Seseorang memanggilku! Mungkinkah ini bertanda jawaban?

Aku menoleh ke belakang. Masih kosong, masih sunyi, masih sepi. Yang ada hanyalah sisa dari senduanku tadi, serta hampa yang tak terusik.


Ah... hanya khayalanku saja. Hanya harapanku saja.
Aku kembali melangkah pergi.

Langkah ke-empat...

Langkah ke-lima...


Lalu kurasakan genggaman erat di tanganku.
Erat, sangat erat. Akupun tak bisa maju. Lalu 'ku menoleh ke belakang. Tak ada seorang pun!
Tuhan... Ada apakah gerangan?


Genggaman itu masih 'ku rasakan. Ketika ku melihat pergelangan tanganku, aku tertawa sendiri.
Ternyata itu genggaman hampa. Aku tersenyum kecil, lalu bertanya, "Hai, hampa. Ada apa? Tak bolehkah 'ku pulang?"


Lalu dia menjawab.
Iya! Dia menjawab!
Satu kalimat untuk menjawab ribuan pertanyaanku sebelumnya.


"Hai, dirimu yang telah lama menunggu. Janganlah kau pergi, tetaplah kau duduk. Di seberang sana dia juga terpaku; menyendu dan merindu. Disana dia juga bertanya-tanya, bahkan memohon-mohon. Duduklah kau saja, tataplah sang bulan. Hanya sinarnya yang kalian berdua sama-sama lihat, walau jauh dipisahkan jarak."


Juni 2012

hai

blog baru, dibuat karena website sebelah sana akan segera tutup, menghapus kemungkinan untuk tetap menggunakan si website itu.

banyak karya yang diambil dari blog sebelah, namun akan ada lebih banyak lagi karya baru untuk diabadikan disini. semoga selalu bisa dinikmati.

salam!