11/27/2013

kepasrahan yang pasrah pada detik ke sepuluh

Aku menggengam segumpal keraguan
yang kupegang erat dan enggan kulepas
walau aku tahu keraguan ini membunuhku
menusuk jari telunjuk dan manisku
menjalar di kulit dan meracuni sarafku.

sedetik...

dua detik...
tiga detik...

Hanya darah yang bercucuran dari tanganku.


Akupun tahu, ketika itu segumpal keraguan ini tak seharusnya diragui

...dan aku merintih perih.


Aku menelan segelas kesadaran yang ketika menyentuh lidah, hanya manis terasa,

tetapi tenggorokanku berkata beda:
"Pahit! Pahit!" begitu teriaknya
apanya yang pahit? ini manis!
Aku telan terus kesadaran ini
kesadaran manis tiada rugi

sedetik...

dua detik...
tiga detik...

Hanya hambar yang sampai di lambungku.


Akupun tahu, ketika itu segelas kesadaran ini tak seharusnya disadari

...dan aku menangis sedih.


Akupun bersandar pada dinding kepasrahan

tubuhku penuh air
beberapa detik lalu sempat ku terbawa ombak deru yang menenggelamkanku dalam lautan pilu
- aku mati membeku.

Jariku masih berdarah

tenggorokanku masih hambar
karenanya aku makin ragu dan sadar
(padahal tidak seharusnya!)

sedetik...

dua detik...
tiga detik...


Dinding kepasrahan ini tak rapuh.



empat detik...

lima detik...


Tak kunjung runtuh.



enam...

tujuh...


Yang bersandar kini adalah seluruh aku, berat tubuhku, raga dan hatiku.



delapan detik...



Walau begitu dinding kepasrahan ini tak jatuh!



sembilan detik...



Lalu aku tahu ketika itu

oleh kepasrahan yang pasrah aku dibawa tidur
dan dalam lelapku, kudengar ia berbisik lembut:
"Keraguanmu tak seharusnya diragui,
kesadaranmu tak seharusnya disadari,
hanya aku, kepasrahanmu, yang seharusnya disandari!"


Akupun jadi tahu, ketika itu pada detik ke sepuluh

oleh kepasrahan yang pasrah,
aku kembali dibawa hidup.


November 2013

No comments:

Post a Comment