Aku menggengam segumpal keraguan
yang kupegang erat dan enggan kulepas
walau aku tahu keraguan ini membunuhku
menusuk jari telunjuk dan manisku
menjalar di kulit dan meracuni sarafku.
sedetik...
dua detik...
tiga detik...
Hanya darah yang bercucuran dari tanganku.
Akupun tahu, ketika itu segumpal keraguan ini tak seharusnya diragui
...dan aku merintih perih.
Aku menelan segelas kesadaran yang ketika menyentuh lidah, hanya manis terasa,
tetapi tenggorokanku berkata beda:
"Pahit! Pahit!" begitu teriaknya
apanya yang pahit? ini manis!
Aku telan terus kesadaran ini
kesadaran manis tiada rugi
sedetik...
dua detik...
tiga detik...
Hanya hambar yang sampai di lambungku.
Akupun tahu, ketika itu segelas kesadaran ini tak seharusnya disadari
...dan aku menangis sedih.
Akupun bersandar pada dinding kepasrahan
tubuhku penuh air
beberapa detik lalu sempat ku terbawa ombak deru yang menenggelamkanku dalam lautan pilu
- aku mati membeku.
Jariku masih berdarah
tenggorokanku masih hambar
karenanya aku makin ragu dan sadar
(padahal tidak seharusnya!)
sedetik...
dua detik...
tiga detik...
Dinding kepasrahan ini tak rapuh.
empat detik...
lima detik...
Tak kunjung runtuh.
enam...
tujuh...
Yang bersandar kini adalah seluruh aku, berat tubuhku, raga dan hatiku.
delapan detik...
Walau begitu dinding kepasrahan ini tak jatuh!
sembilan detik...
Lalu aku tahu ketika itu
oleh kepasrahan yang pasrah aku dibawa tidur
dan dalam lelapku, kudengar ia berbisik lembut:
"Keraguanmu tak seharusnya diragui,
kesadaranmu tak seharusnya disadari,
hanya aku, kepasrahanmu, yang seharusnya disandari!"
Akupun jadi tahu, ketika itu pada detik ke sepuluh
oleh kepasrahan yang pasrah,
aku kembali dibawa hidup.
November 2013
No comments:
Post a Comment