dengan ombak yang tak henti menerkam
aku coba mengawini sore
kubisikkan padanya di sela bertemu:
"akulah milikmu, kamulah milikku
disinilah selalu agar kita satu!"
namun sore tak tahu untung
ketika malam tiba, ia pergi menjauh.
Lalu aku coba saja mengawini malam
kukatakan padanya di sela bertemu:
"hadirmu adalah senyata-nyatanya gelapmu
kamulah milikku, akulah milikmu,
disinilah selalu, abaikanlah terang!"
namun malam juga tak tahu untung
ketika pagi tiba, ia jadi benderang.
Akupun coba mengawini pagi
kubilang padanya sebelum bertemu:
"aku akan milikku kamu dan kamu akan miliki aku
janganlah menjadi sore,
janganlah menjadi malam,
karena pada merekalah aku jenuh.
disinilah selalu, aku butuh hadirmu!"
namun dialah sang pagi yang paling tak tahu untung
dijawabnya dengan tertawa sampai sampai rahangnya menyentuh tepian lautku:
"kamu kasihan, wahai wanita jalang, kamu kasihan!" ia berseru
"tak adakah kesadaran bahwa hadir yang kau butuhkan adalah hadirmu sendiri?
tak ada?
Ah... wanita jalang yang malang,
aku, sore, dan malam, adalah sebuta-butanya pohon, air dan udara padamu
aku, sore dan malam, adalah pelarian yang buntu!"
Di antara gema suaranya, aku semakin tenggelam di lautan terdalam
dengan sang pagi yang terus tertawa di tepian
dan ombak yang tak henti menerjang.
Lalu lanjut sang pagi:
"wahai wanita jalang yang kasihan,
nyatanya kau tak miliki orang lain, bahkan dirimu sendiri tak kau miliki.
wanita jalang, aku iba!
milikki dulu dirimu sendiri baru rebut aku dari langit!
ajak dulu dirimu sendiri pergi kencan mengitari taman kembang baru tarik aku 'tuk mendampingi!
kawini dulu dirimu sendiri dan nikmati pertemuan yang nyata baru kau nodai kami!"
Saat itulah rasanya seperti menyentuh dasar laut yang terdalam dengan ombak yang masih menerjang
(dan sore yang tertawa lepas, dan malam yang tersenyum puas)
Saat itulah aku berkata: "engkaulah pagi yang sialan!
Karena engkau aku menjadi sadar:
akulah wanita jalang yang ditolakmu, sore dan malam!
akulah wanita jalang yang tak mengenal siapapun bahkan diriku sendiri!
akulah wanita jalang yang sepi!
.... maka bantulah aku,
kepada siapa aku harus berlari?"
(Lalu pagi, sore dan malam beranjak pergi, kata mereka, "wanita jalang masih belum mengerti!")
ini satu dari banyaknya percobaan gagal
No comments:
Post a Comment